Mencuatnya masalah sampah di perkotaan seringkali mengundang para peneliti, lembaga kemasyarakatan bahkan pengusaha menawarkan berbagai teknologi guna ikut mengatasinya. Berbagai kelebihan dari tiap metoda yang ditawarkan tentu saja menjadi pekerjaan para pengelola kota dan pemerintah mengkajinya, memilih yang paling sesuai dengan kondisi sosio ekonomi daerah dimana masalah sampah berada. Namun, yang paling pasti, diantara banyak teknologi seperti tenaga listrik berbahan sampah (PLTSa), teknologi pembakaran (insinerator), hingga pemanfaatan gas methana bagi pembangkitan turbin tenaga listrik, metoda paling populer di pertanian - yakni pengomposan -ketika ditawarkan bagi perkotaan menjadi dianggap kuno, tidak modern, rumit dan bercitra agraris ( ndeso).
Kembali mengacu pada arti pengomposan, dalam literatur disebutkan sebagai proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Dan, membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Maka itu, dengan pemahaman akan pengomposan bagi kepentigan di kota seyogyanya megharuskan kita menggunakan mekanisasi penuh.Dengan mekanisasi penuh, bedeng terbuka dapat digantikan dengan alat mesin Rotary Kiln. Alat ini membatu pembalikan material menjadi praktis, serta pengelolaan kelembaban dan suhu juga dapat terkontrol karena material berada dalam tabung ( Kiln). Dengan mekanisasi, pada tahap penguraian (dekomposisi) setelah pengecilan ukuran dengan pencacah, penambahan intensitas aerasi dan porositas juga semudah memutar pedal exhaust fan. Inilah kunci bagi pengomposan modern yang menjamin bakteri pengurai bekerja tanpa henti ( dorman) - yang menjamin penguraian terus berlangsung dalam kondisi aerobik. Untuk diketahui, bau busuk dalam olah sampah, sesungguhnya ditimbulkan oleh proses penguaraian material organik tatkala kekurangan oksigen ( anaerobik). Pada kondisi an aerobik, material organik yang diurai bakteri, akan menghasilkan H2S dan CH4 ( methana). Kedua gas itulah yang dipersepsikan sebagi bau sampah.
Peranan mekanisasi penuh pada pengomposan, antaranya dengan penambahan alat fermentasi ( Rotary Kiln), telah memberi banyak keuntungan bagi pembuatan kompos dalam kepentingan pengolahan sampah di kota. Keperluan luasan lahan jauh menyusut, dari pengalaman dalam pengolahan sampah target 1 ton ( 3 m3)/ hari secara kontinyu, diperlukan 100 m2. Luasan ini jauh kecil dibanding dengan metoda bedeng pada kapasitas 1 ton/ hari yang sama tadi, hingga 1000 m2. Demikian juga kebutuhan tenaga kerja, cukup 1 orang operator mengerjakan pembalikan, pengelolaan suhu, pengelolaan kelembaban. Dan, dengan waktu penguraian cepat, hanya 5 hari dibanding metoda bedeng terbuka, akan memberikan keuntungan juga pada perputaran modal kerja.
dengan mekanisasi penuh bebas dari timbulan bau busuk serta cairan lindi, kelayakan lingkungan juga terpenuhi. Mekanisasi penuh, berupa penambahan mesin rotary kiln, dalam pengomposan skala suatu instalasi mampu melayani ribuan penduduk, diharapkan lahir di berbagai lokasi kawasan komersial ( perumahan, apartemen, mall, restoran, hotel, pabrik dan kawasan industri) serta kawasan sosial dan menunjang bagi upaya mengembalikan bahan organik ke pertanian. Dengan merobah sampah organik, disajikan dalam bentuk pupuk organik kompos, akan memiliki keberterimaan di kalangan petani. Instalasi pengolahan sampah, dengan mekanisasi penuh berada di sekitar sumber sampah perkotaan timbul, akan berguna dalam turut membangun model pengelolaan sampah kota yang mendukung pada terwujudnya pertanian secara berkelanjutan*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar