2.3.22

Mesin Pengayak Pemilah Sampah TPA MPP 3605

 

Pengolahan sampah dimulai dengan memisahkan dulu sampah organik seperti sisa makanan dan semua materi yang berasal dari makhluk hidup dengan sampah nonorganik, seperti biomassa kering ( kayu, kertas, kaleng, atau kaca) serta jenis ketiga adalah aneka sampah plastik (PS, PP, HDPE, PET).

Mesin Pemilah Pengayak berfungsi mengayak kompos dan memisahkan antara ukuran bongkah, granul dan kompos halus ( bagus). Selain itu, mesin juga dapat digunakan sebagai mesin pemilah sampah antara sampah organik dan sampah anorganik.

Pengayakan ( penapisan) kompos disesuaikan dengan kebutuhan penggunaan oleh para petani, pehobbies tanaman hias maupun proyek reklamasi lahan bekas tambang. Bagi pemupukan pertanian di kebun dan tanaman keras serta reklamasi lahan masih bisa ditolerir penggunaan kompos ukuran butir besar. Sementara, bagi tanaman hias di taman dan pot, diperlukan ukuran kompos kecil ( lolos mesh 100) . Kompos ukuran butir lolos mesh 100 ( 2,3 mm) inilah yang sering laku dan diperjualbelikan di pasaran.


Memilah berbagai ukuran butiran kompos maupun pemisahan sampah berdasar jenis diperlukan pengayak maupun mesin pemilah sampah. Bagi usaha pengomposan skala kecil dan pehobbies di rumah bisa digunakan pengayak manual ( biasa digunakan tukang tembok bangunan) , namun bagi usaha pengomposan skala besar atau bisnis komersial harus digunakan pengayak ( penapis) menggunakan mesin penggerak.

 Bertambah dan terus menerusnya sampah ditimbulkan rumah tangga, industri, pasar serta kawasan komersial,menimbulkan masalah karena di tempat pembuangan akhir (TPA) di hampir semua kota di Indonesia menjadi penuh.  Penambahan areal maupun mencari lokasi baru TPA dihadapkan pada besar dan mahalnya lahan serta resistensi masyarakat untuk menerima wilayahnya sebagai lokasi pembuangan sampah.                                                                                                                                                                                                                                                                                                    

Guna ikut mengatasi masalah diatas, dikenalkan mesin pemilah pengayak sampah TPA yang berkemampuan memisahkan tanah hasil dekomposisi sampah organik, plastik dan an organik lainnya. Dengan terpilah, sampah plastik dapat diolah menjadi gas dan minyak secara pirolisis.  Sementara jenis tanah dapat digunakan langsung sebagai media tanam pohon dan perbaikan lingkungan.

Berbeda dengan mesin pengayak kompos hasil produksi yang memiliki ukuran dan sifat lebih halus, sampah TPA berukuran lebih besar dan bongkah dan di lokasi lapangan terbuka karenanya mesin penambang sampah TPA harus memiliki Spesifikasi untuk bekerja keras ( heavy Duty)

Mesin Pemilah Pengayak Sampah TPA

Mesin Pemilah sekaligus menjadi Pengayak Sampah TPA ( Tempat Pembuangan Akhir) memiliki.

Mesin Pemilah Pengayak MPP 3000 Kapasitas : 5 - 10 m3/jam; PLT ; 300x120x120 cm, Kawat Pengayak : Stainless Steel 25 mm, Berat : 150 kg, Penggerak Mesin Jiang Fa 12 HP,

Tambahan Hooper Pengisian, Cassing dan Pengeluaran serta Chasis Roda/Ban (Anhang) bisa dipindah dimobilisasi.

Mesin dikopel dengan conveyor pemilahan sampah Tipe CPS 605 ; dengan spesifikas Dimesi Mesin: PxLxT 500 x 60 x 60 cm,

Penggerak/ Power: Enggine Jiang Fa 8 HP dan gear box, Bahan Utama: cotton rubber belt 2 ply, Bahan Rangka: Mlid steel UNP 100, Kapasitas: 7-10 m3/ jam,

Kelengkapan: Lebar belt: 60 cm (include Roda/Ban dapat dipindah.


Timbunan sampah dikeruk menggunakan excavator/ bekho dimasukan ke hooper pengayak. Bagian masa yang berat seperti tanah dan besi logam akan jatuh ke Conveyor untuk di pilah manual agar logam bernilai ekonomi dapat dimanfaatkan sementara tanah adalah kompos yang dapat diguanakan sebagai media tanam dan pengurugan kebun dan taman kota.

Jenis plastik akan tetap ada meski TPA sudah puluhan tahun. Dari pengayak akan terlempar ke depan. Setelah dicuci, kelompok aneka jenis plastik dapat diolah menggunakan mesin pirolisis menjadi gas dan minyak bagi pembangkit listrik dan bahan bakar mesin.

Kondisi Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di hampir semua kota di Indonesia makin penuh menggunung. Diperlukan upaya menurunkan gunungan sampah TPA, antaranya dengan mengayak dan memisahkannya.

Bagian halus lolos mesh 14 atau screen, adalah kompos bagi pertanian atau pengurugan. Sementara bagian bongkahan dan masih ukuran besar, utamanya kayu dan plastik, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku RDF.

REFUSED DERIVED FUEL (RDF) merupakan pilot proyek nasional model pengolahan sampah menjadi bahan bahan bakar. RDF merupakan teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers menjadi ukuran yang lebih kecil. Hasilnya sebagai sumber energi terbarukan dalam proses pembakaran, sebagai pengganti batu bara.




5.11.19

Menyiapkan Lulusan Sekolah Kejuruan SMK Bagi Pengelolaan Masalah Sampah

MENGAPA BANYAK LULUSAN SMK TIDAK TERSERAP DUNIA USAHA/ DUNIA INDUSTRI (DU/DI) ?

Kesenjangan kompetensi antara pencari kerja dengan kebutuhan industri berperanan besar bagi tingkat serapan tenaga kerja. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) sejatinya terus berikhtiar mendekatkan rumpang (gap) kualitas peserta didik dengan kebutuhan dunia usaha / dunia industri (DU/DI), yang terus berubah dan berkembang. Perkembangan ekonomi dan teknologi  telah menuntut kualitas kompetensi peserta didik yang makin baik dan sejalan dengan kebutuhan dunia usaha. Salah satu cara mendekatkan kesenjangan itu, antaranya perlu ditempuh melalui sekolah kejuruan berkonsep teaching factory.   

APA KONSEP TEACHING FACTORY?

Menurut Kuswantoro (2014), teaching factory menjadi konsep pembelajaran dalam keadaan yang sesungguhnya untuk menjembatani kesenjangan kompetensi antara pengetahuan yang diberikan sekolah dan kebutuhan industri. Pembelajaran melalui teaching factory bertujuan untuk menumbuh-kembangkan karakter dan etos kerja (disiplin, tanggung jawab, jujur, kerjasama, kepemimpinan, dan lain-lain) yang dibutuhkan DU/DI serta meningkatkan kualitas hasil pembelajaran dari sekedar membekali kompetensi (competency based training) menuju ke pembelajaran yang membekali kemampuan memproduksi barang/jasa (production based training). 

APA YANG MENJADI PROGRAM POSKO HIJAU ?

Berpedoman kepada konsep pembelajaran diatas, Yayasan Phoskko Hijau menggandeng perusahaan penyedia teknologi pada metoda Biophos_kkogas [Biodigester-Pirolisis-Komposter-Gasifier] mendirikan SMK Hijau.  Yayasan Posko Hijau, SUATU BADAN HUKUM dengan akta pendirian Notaris Ano Muhammad Nasruddin SH No 31 sebagai lembaga DENGAN No AHU 11434.50.10.2014-yang selama 5 (lima) terakhir telah menyelenggarakan pelatihan serta menjadi tempat praktek lapang (PL) siswa maupun praktek kerja industri (Prakerin) keahlian energi terbarukan para guru SMK dari berbagai daerah.  


MENGAPA SMK HIJAU MENJADI PENTING BAGI SISWA?

Atas dasar adanya kebutuhan masyarakat Bandung dan sekitarnya, mulai tahun ajaran 2020 menerima siswa kejuruan menengah guna mengikuti program pembelajaran regular. Dengan dukungan PT Cipta Visi Sinar Kencana perusahaan penyedia teknologi energi terbarukan dan pupuk organik dan berpengalaman lebih dari 15 tahun dalam penyedia mesin dan enzyme bagi pengelolaan sampah, limbah dan biomassa, dapat dipastikan siswa belajar dan menguasai keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan berdasarkan konsep teaching factory yakni menjalankan prosedur dan standar kerja industri sesungguhnya.

APA BIDANG  KEAHLIAN SMK HIJAU ?

Bidang keahlian SMK Hijau meliputi bidang Teknik Energi Terbarukan dan bidang Agribisnis Agroteknologi, dengan kompetensi keahlian yang diprogramkan, sesuai struktur kurikulum sebagaimana permendikbud No 07/2018 adalah 


1.       Teknik Energi Biomassa ( 3 tahun), Bidang Teknik Energi Terbarukan
2.       Agribisnis Organik Ekologi ( 4 tahun), Bidang Agribisnis Agroteknologi





MENGAPA PENTING ENERGI BIOMASSA DAN AGRIBISNIS ORGANIK EKOLOGI?

Biomassa diproduksi oleh tanaman hijau yang mengkonversi sinar matahari menjadi bahan tanaman melalui proses fotosintesis Biomassa tersebut dapat berasal dari tanaman, pepohonan, rumput, umbi, limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Potensi sumber daya energi biomassa di Indonesia diperkirakan sebanyak 49.810 MW, yang berasal dari tanaman dan limbah.   Diluar data biomassa masih terdapat potensi bahan baku bagi pembangkitan energi yakni sampah domestik. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2019) jumlah timbulan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun jika menggunakan asumsi sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kg.

Disamping sebagai bahan energi terbarukan, pengembalian biomassa kedalam ekosisitem lingkungan juga sangat penting jika mengingat siklus karbon (C Organik) dan unsur hara ( NPK, unsur mikro, senyawa dan hormon) bagi kelangsungan produksi berkelanjutan bahan pangan dan berbagai produk bagi pemenuhan kebutuhan manusia.  Pesatnya penggunaan pupuk sintetis dalam beberapa dekade terakhir telah memberikan hasilnya pada peningkatan produktivitas pertanian, perkebunan dan tanaman kehutanan, namun demikian tidak kurang banyak ekses negatif yang ditimbulkan dari masifnya penggunaan pupuk sintetis tersebut. 

APA PROSPEK EKONOMI ENERGI BIOMASSA DAN AGRIBISNIS BERBASIS ORGANIK? 

Dasar pemikiran pemilihan kedua jurusan dari kedua bidang keahlian diatas adalah besarnya potensi alam yang belum termanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Saat ini, biomassa telah menjadi sumber energi paling penting di setiap wilayah dunia (Thran D et al, 2010). Mengingat besarnya potensi biomassa dan, dilain pihak, terdapat peluang pasar mengisi kebutuhan pangan sehat berikut sarana produksi pupuk dan pestisida organik serta alat mesin pertanian, maka terdapat prospek besar guna diusahakan oleh tenaga terlatih yang memiliki kompetensi pada usaha pertanian (agribisnis) berbasis organik dan ekologi. Pengusahaan pertanian dalam arti luas ( perkebunan, kehutanan) memerlukan penguasaan akan kemajuan teknik teknologi serta otomatisasi alat mesin pertanian (mekanisasi). 

Dari pandangan diatas, kedua kompetensi keahlian terpilih diharapkan menjadi jalan keluar bagi masih tingginya tingkat pengangguran karena lemahnya keterampilan angkatan kerja serta masih rendahnya tingkat pemanfaatan potensi alam nasional bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

MENGAPA PENGUASAAN TEKNOLOGI BIOMASSA PENTING DI MASA DEPAN ?


Perkembangan teknologi hari ini dan masa depan akan meningkat pesat.  Menurut Guru Besar Teknik Elektro ITB, Prof. Pekik Argo Dahono, teknologi baru seperti smart grid, big data dan AI (Artificial Intelligence), distributed energy resources, blockchain, cyber security, dan beragam teknologi baterai telah mewarnai industri ketenagalistrikan. Bergantungnya teknologi kepada energi, sementara bahan bakar fosil makin terbatas,  dunia pun akan menyambut era prosumer (producer dan consumer) dan enernet (energy on internet) dan kebangkitan energi baru dan terbarukan (EBT).

Sementara itu, karena proses pembangkitan energi berbahan biomassa menghasilkan produk nutrisi bagi pertanian organik, sejalan dengan pendapat Guru Besar Perlindungan Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Hasanuddin Makassar, Prof. Dr. Sylvia Sjam menyatakan perlunya mempromosikan pertanian organik ini sebagai sebuah solusi pertanian berkelanjutan. 

Penguasaan teknologi biomassa sebagai bahan baku energi maupun pertanian organik akan memiliki peranan penting bagi sumberdaya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan laporan Komisi Brundtland PBB tahun 1987, yang mendefinisikan istilah pembangunan berkelanjutan adalah "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan” (***)

17.8.18

SAMPAH ORGANIK SAYUR BUAH PASAR INDUK BAGI PENYEDIAAN TEPUNG MOCAF CASSAVA

PERMASALAHAN

1. Besarnya sampah organik ( sayuran dan buah) di pasar induk menjadi penyebab bau dan buruknya sanitasi akibat material mudah busuk (perishable)

2. Mahal dan terbatasnya lahan di area komersial pasar menuntut teknik pengecilan volume agar menurunkan biaya buang ke TPA

3. Menurunnya kualitas/ kesuburan lahan pertanian ( C organik< 2 %) memerlukan pengembalian organik. 

Rangkaian Mesin Pencacah Organik dan Dewatering berkemampuan mengecilkan volume sampah dalam waktu cepat


SOLUSI

1. Rangkaian mesin pencacah dan pengepres air ( dewatering) sampah organik pasar yang dapat dibayar dari selisih biaya buang sebelum dan sesudah adanya fasilitas pengecilan volume sampah

2.  Pemilahan truk angkutan, khusus bagi organik ( sayur dan buah) diantar ke lokasi pertanian untuk dijadikan kompos

Kapasitas reduksi sampah organik di pasar hingga 50 %, dari 40 ton/ hari menjadi 20 ton. Berarti dengan reduksi itu biaya buang ke TPA dapat dari 6 truk menjadi dihemat 3 truk setara biaya Rp 3 juta/ hari ~ Rp 90 juta/ bulan.

TANPA BIAYA BARU, penimbul sampah organik, misalnya skala 40 ton/ hari ( pasar sayur, pasar induk), dapat membeli secara leasing MESIN PENCACAH DAN DEWATERING 

MANFAAT

1. Penimbul sampah, dengan melakukan pengumpulan jenis sampah secara homogen/ lokasi los,  telah ikut mengatasi masalah sampah

2. Memiliki investasi MESIN PENCACAH DAN DEWATERING dari penghematan biaya buang ke TPA

3. Memiliki sampah organik (homongan) sudah tercacah sebagai bahan dalam pembuatan kompos sehingga bisa dibuang ke luar TPA, yakni kebun2 pertanian/ perkebunan

PROSPEK PRODUKSI TEPUNG MOCAF DI PESANTREN

Sampah organik hasil dewatering/ pencacahan akan dijadikan kompos PT CIPTA VISI SINAR KENCANA ( CVSK) di lokasi2 yang dikuasai lembaga pengajaran (pesantren), selanjutnya dijadikan media tanam ketela bagi program pengadaan tepung modifikasi cassava, dengan pembagian cara bagi hasil ( Mudharabbah)

1. Bahan kompos dari organik pasar induk menjadi media tanam pertanian singkong/ ketela di lahan2 kebun  milik lembaga


2. Pemeliharaan sederhana budidaya ketela dapat dilakukan pelajar/ santri dengan membagi jumlah populasi tanaman dibagi jumlah santri


3. Hasil akhir usaha bersama budidaya ketela adalah produk, yang dapat dipasarkan ( marketable) tepung mocaf 




  

14.8.18

Listrik, Bahan Bakar Biogas dan Minyak Plastik dari Sampah Kota


Tempat Pengolahan Sampah Mandiri Energi TPST ME 20 Ton Tempat Pengolahan Sampah Terpilah Terpadu (TPST) Mandiri Energi ME 20 T adalah sistim pengolahan sampah domestik mekanisme bersih ( zero waste), mengkonversi musnah 20 ton setara 60 m3/hari jenis sampah anorganik (plastik dan biomassa kering) maupun organik.

Katagori sampah kelompok biomassa kering meliputi kain, kertas, kayu, dan sejenisnya. Jenis sampah plastik meliputi PP, HDPE, PE, PS serta jenis organik ( sampah sisa makanan, daun, sayuran, buah dan segala jenis sampah berasal dari makhluk hidup). Konfigurasi alat teknologi Biophos_kkoGas ( Biodigester- Piroliser- Komposter- Gasifier) disusun dan bisa disesuaikan ( customized) dengan kondisi lokasi yang ditargetkan. 

Didedikasikan bagi pengelolaan sampah kawasan komersial (wisata, niaga, industri), kawasan pemukiman, kawasan perumahan dan apartemen, area fasilitas publik perkotaan maupun pasar induk, kawasan industri ternak dan pertanian, perkebunan, industri makanan dan minuman.

KEUNGGULAN KOMPETITIF
 1. Mandiri Energi, tanpa memerlukan listrik (PLN) maupun BBM. Sistem pembangkitan energi dipenuhi dari biogas hasil reaktor fermentasi secara kedap ( nir oksigen) oleh biodigester serta minyak bakar hasil dekomposisi plastik dalam reaktor pirolisis, 

2. Ramah Lingkungan, sesuai peraturan perundangan yang mewajibkan pemilahan. Tiap jenis sampah ( plastik, biomassa kering, organik) diproses konversi berdasar karakternya, keluaran emisi dibawah ambang batas yang dipersyaratkan perundangan yang berlaku, 

3. Menghasilkan produk akhir ( final product) guna pemenuhan permintaan pasar berupa pupuk organik granul (POG) sesuai standar SNI dan ijin edar pupuk pertanian serta biogas terkompresi atau compressed bio gas ( CBG) 

4. Konfigurasi solid, kompak dan cepat melakukan konversi musnah organik menjadi biogas dan kompos secara harian ( pengisian kontinyu maupun per batch), memusnahkan biomassa kering dan plastik harian, dengan kebutuhan luas lahan bagi kapasitas 20 ton/hari mulai 400 m2. 

5. Memberi peluang bisnis bagi pengembalian investasi (return on investment) di kisaran 4 sd 8 tahun, bergantung kepada karakter sampah terpilah, lokasi serta besaran tiping fee

 http://kencanaonline.com/index.php?ro...

4.7.17

Layanan Pelatihan Olah Sampah Jadwal Fleksibel



Pelatihan olah sampah membuat kompos dan biogas Skala Rumah dan Kawasan Kecil dengan jadwal atas permintaan (on demand).

Acara dilaksanakan per 1 hari ( pkl 9.00 sd pkl 17.00) untuk paling banyak 20 orang per hari. Peminat dapat mendaftarkan diri dengan mengajukan hari, tanggal pelatihannya dan menyerahkan investasi dan biaya Rp 100.000,- ditransfer sebelum acara ke Bank Mandiri, Jl. Asia Afrika Utara Bandung an PT. Cipta Visi Sinar Kencana 130 00 1146173 1 atau Rek BCA No 0080226195

1. makan siang

2. minuman, 2 x snack

3. kit materi pelatihan

4. praktek

Konfirmasikan pendaftaran dan kontribusi kepesertaan ke organizer :

Sodik Bayer, Hilman Amirudin, Hendri Yuliantoro
+62-22-87800115- WA 08157002935 atau 08112220116

Jl. Raya Banjaran No 390 Pameungpeuk Bandung Selatan KM 13
Jawa Barat 40376,



Organik Indonesia: Layanan Pelatihan Olah Sampah Jadwal Fleksibel

12.2.17

Menjadikan Sampah Lebih Bernilai


 
Sampah bukan untuk dibuang dan dilupakan begitu saja. Jika cermat memilah dan diproses melalui alat inovasi karya Sonson Garsoni, sampah akan menghasilkan pupuk, gas, dan bahan lain yang bermanfaat.

Hal terpenting bagi Sonson ialah bagaimana agar tempat pembuangan akhir sampah tidak menggunung, yang kemungkinan berbahaya bagi warga sekitar. Kini, berkat kepeduliannya terhadap persoalan sampah, Sonson sukses menjadi pengusaha alat pengolahan sampah yang sudah menembus pasar Asia Tenggara dan Eropa.

Simak kisah penerima penghargaan Dharma Karya Kencana Presiden RI tahun 2009 ini dalam membangun usaha serta pengabdiannya terhadap lingkungan. Apa harapan dan inovasi baru yang ingin dia wujudkan? Berikut penuturan pria kelahiran 1960 itu kepada KORAN SINDO.

Sejak kapan dan mengapa Anda terjun membuat usaha pengolahan sampah?

Pada 2005 terinspirasi oleh ledakan di pembuangan akhir sampah Leuwi Gajah, Bandung, kemudian mengenalkan kepada masyarakat alat untuk mengelola sampah organik di rumah yang disebut mesin komposit. Tahun 2009 kami melanjutkan teknologi pengelolaan sampah menjadi biogas bahan bakar yang bisa dijadikan pembangkit listrik. Tahun 2010-2011 kami mengenalkan teknologi pengelolaan sampah anorganik rumah, sampah kering seperti kayu dan turunannya. Sampah plastik menjadi energi atau bahan bakar minyak.

Semua itu didesain konfigurasi pada level kawasan sebab prinsip kami tidak mengelola sampah pada level pembuangan akhir. Kami mengenalkan konsep desentralisasi, pengelolaan sampai harus sedekat mungkin dengan sumber timbulnya sampah. Jadi satu kawasan desa, kawasan industri, kawasan pasar. Di setiap kawasan menghasilkan puluhan ton sampah setiap hari. Kalau selesai di lokasinya itu kan sangat memberi kontribusi untuk tidak adanya lalu lintas penarikan sampah ke TPA Bantar Gebang.

Bagaimana cara kerjanya?

Untuk yang organik, teknologi fermentasi akan menjadi biogas. Fermentasi ialah proses reaksi kedap tanpa oksigen, itu akan menjadi biogas dan residunya pupuk. Kalau yang anorganik menghasilkan energi panas. Kalau ingin digunakan untuk pemanasan boiler dalam skala besar atau sekadar dipanaskan, kami punya biolisis yang mengubah plastik menjadi minyak bakar.

Apa yang harus diperhatikan sebelum memulai pengolahan?

Terpenting harus bisa memilah sampah. Sampah terbagi menjadi empat, yaitu sampah plastik kemudian sampah kering misalnya daun kering, ranting, kain, kayu dan sejenisnya. Ketiga sampah organik seperti daun, rumput, sampah pasar atau sisa perdagangan sayur. Keempat sampah basah misalnya bekas makan atau limbah tahu. Masingmasing punya teknologinya, misalkan sampah plastik biolisis. Teknologi yang sudah terkenal di dunia plastik berubah jadi minyak, diubah lagi menjadi bentuk asalnya.

Dalam membuat alat pemrosesan sampah ini, Anda bekerja sama dengan siapa saja?

Kami sering melakukan kerja sama dengan LIPI, BNPT, perguruan tinggi seperti Universitas Padjadjaran, dan UGM. Saya juga ada tim yang rutin berdiskusi. Mereka ahli teknik, mesin, pertanian, dan biologi.

Tujuan Anda membuat alatalat ini?

Ikut memberi kontribusi pada penyelesaian masalah yang ada di masyarakat. Tergerak terlebih pada peristiwa di Leuwi Gajah. Saya sebagai orang yang mengetahui teknologi saat itu tahu bahwa sebenarnya semua material tersebut bisa dikonversi. Motif untuk lingkungan, tapi semakin lama ya akhirnya saya bisa hidup dari sini.

Sejak kapan alat-alat pengolahan sampah buatan Anda dilirik konsumen mancanegara?

Tahun 2009 sudah dikenal di Malaysia, pernah juga ekspor ke New Zealand. Mereka sudah melihat di website Kencana Online.

Siapa konsumen Anda selama ini?

Kebanyakan korporasi, terlebih yang memiliki masalah sampah misalnya Pertamina. Mereka memiliki karyawan ratusan orang atau memang sengaja untuk program CSR d suatu wilayah, bagi-bagi alat ini ke daerah yang membutuhkan.Kedua, perusahaan pertambangan untuk menyelesaikan sampah di daerah tambang. Ketiga pemerintah, dinas lingkungan, bahkan ESDM untuk di daerah- daerah. Buat anggaran lalu buat tender, kemudian mereka beli pada kami.

Misalnya sebuah kota membeli alat inovasi Anda ini, berarti membutuhkan berapa alat?

Tergantung berat yang dipilih, sesuai prinsip desentralisasi. Jadi yang terdekat dengan sumber. Misalnya bisa per kecamatan atau kelurahan, namun harus diperhatikan lahan yang memadai. Ini menjadi faktor penting yang harus diperhatikan ketika ingin menggunakan alat ini. Untuk alat yang memuat sampah 20 ton diperlukan 200 meter persegi. Kalau listrik dari hasil pengolahan sampah tersebut, jadi dia menggerakkan sendiri. Seperti di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) mandiri. Biogas dijadikan ke generator menghasilkan listrik, bukan untuk dijual lagi ke PLN, tapi untuk TPST itu menyelesaikan pengelolaan sampah.

Inovasi alat pengelolaan sampah ini sudah Anda patenkan?

Sudah sejak awal, tapi ada juga yang tidak dipatenkan, sengaja untuk ditiru masyarakat. Komposter yang untuk skala rumahan, gambar dan desainnya di-publish. Desain bisa dilihat juga di Kencana Online.

Apa harapan Anda dengan adanya inovasi ini untuk masyarakat Indonesia?

Masih banyak masyarakat yang tidak peduli terhadap sampah. Walaupun diberi alatnya oleh pemerintah belum tentu jalan. Bagaimana memotivasi masyarakat untuk bergerak sendiri, mungkin hasilnya harus lebih bernilai di mata mereka.

Inovasi apalagi yang akan Anda buat atau yang sekarang sedang Anda teliti?

Saya sedang melakukan riset mengubah plastik menjadi perekat bahan baku pasir, lalu jadi batako. Semoga ini cepat selesai. Hasilnya lumayan memiliki nilai dalam segi uang. Mungkin masyarakat dapat bergerak karena uangnya bisa dipakai bersama- sama. Misalnya untuk membuat gang dan jalan di desa.

Ananda nararya
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=15&date=2017-02-12

10.7.16

Hadapi Darurat Sampah

CARA CEPAT DAN EFEKTIF HADAPI DARURAT SAMPAH

Bagi upaya perwujudan area ( Desa/ Kelurahan) Bebas Sampah, disampaikan konfigurasi alat TERMURAH bagi pemusnahan di sumber sampah ( RW, TPS Perumahan) menghadapi kondisi DARURAT SAMPAH terdiri :

1. Gasifier Sampah TPST GS 50  berikut Reaktor Pirolisis Plastik.Efektif bagi pemusnahan jenis anorganik ( sampah kering, plastik) ditempatkan di level kelurahan/ desa,

2. Instalasi komposter bagi pemusnahan jenis organik di lakukan di sumber terdekat rumah tangga ( Rumah/Rukun Tetangga)

Target dari Desa/ Kelurahan Berseka Bebas Sampah ( DBBS) ini se maksimal mungkin bersih sampah ( zero waste) di sumber terdekat timbulannya.

Keunggulan Gasifier TPST GS 50 dan Instalasi Komposter per level RT dibanding dengan TPST terpusat di TPA :

1. dapat segera efektif dijalankan dan diperoleh hasilnya dalam waktu 1 bulan sejak diniatkan, tidak memerlukan proses panjang ( Study Kelayakan, amdal, perijinan, dan kontruksi yang bisa mencapai 1 tahun

2.  investasi pada kisaran kurang dari Rp 500 juta/ kapasitas pemusnahan sampah 1 ton/ hari. Bandingkan dengan insenerator skala kota yang memerlukan investasi Rp 1.3 T ~ Rp 1.3 milyar/ kapasitas 1 ton,

3. tanpa memerlukan biaya dan investasi peralatan mobilisasi ( loading-unloading, pengangkutan) berupa truk/ dump truck ke TPA. Konfigurasi Gasifier TPST GS 50 dan Instalasi Komposter memusnahkan sampah di sumber timbulannya ( TPS)/ Kelurahan/ Desa.

4. biaya operasional pemusnahan lebih murah atau hanya Rp 200.000/ ton, dibanding biaya operasional TPST Insenerator terpusat di TPA hingga Rp 400.000 ditambah biaya mobilisasi ( ad 3, Rp 135.000/ ton)
5.  memberi manfaat sebagai bonus langsung berupa kompos dan energi kepada warga di sekitar timbulan sampah
6. tidak memerlukan atau memperpanjang umur TPA ( jika digunakan membuang residu yang tidak terolah di TPS)
Selanjutnya,  http://www.sampah.biz/2014/07/mendirikan-dan-memulai-bisnis-konversi.html

24.6.16

Tempat Komersial Seharusnya Kelola Sampah Secara Mandiri

INILAH, Bandung - Pemerintah Kabupaten Bandung diminta memisahkan pengelolaan sampah antara tempat komersial dan kawasan publik. Hal itu dinilai akan mengurangi beban pemerintah dalam pengelolaan sampah yang ternyata tidak murah dan memerlukan keseriusan dalam penanganannya.

Aktivis lingkungan yang fokus terhadap pengelolaan sampah, Sonson Garsoni mengatakan, selama ini Pemkab Bandung belum melakukan pemisahan kewajiban pengelolaan sampah. Sehingga, semua beban pengelolaan sampah menumpuk di pemerintah.


Padahal, kata dia, jika merujuk pada Undang-Undang No 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, di sana disebutkan bahwa tempat komersial diwajibkan melakukan pengelolaan sampahnya sendiri. Dengan begitu, tanggung jawab pemerintah tersisa pada pengelolaan sampah yang berada di ruang-ruang publik dan peemukiman warga.


"Di Kabupaten Bandung itu tempat-tempat komersial seperti pabrik, hotel, restoran, pasar, dan permukiman elit atau real estate belum melakukan kewajibannya dalam pengelolaan sampah. Ini tinggal pengimplementasian UU saja, dan ditekankan dengan mengeluarkan Perda dan Surat Edaran (SE) Bupati, agar mereka mengelola sendiri sampahnya," kata Son Son, Kamis (23/6/2016).


Son Son mencontohkan, jika di sebuah pabrik dengan jumlah pegawai sekitar 5.000 orang, maka per hari paling tidak akan memproduksi sampah sekitar 1 ton. Jumlah tersebut tentu tidak sedikit, apalagi di Kabupaten Bandung terdapat ribuan pabrik. Begitu juga dengan tempat komersial lainnya. Seperti pusat perbelanjaan, hotel, restoran, pasar dan permukiman elit.



"Kalau saja UU tentang pengelolaan sampah ini diterapkan secara maksimal seperti yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta, tentu beban pemerintah daerah akan jauh berkurang. Karena bebannya hanya tersisa pada publik area dan permukiman saja," ujarnya.

Dengan investasi Rp 500.000.000 per ton sampah, pengelolaan secara terdesentralisasi dengan metoda BiophoskkoGas di sumber timbulannya jelas lebih murah dibanding tersentralisasi di TPA. Menurut kajian BPPT, disamping biaya operasional Rp 400.000/ ton, pengelolaan di TPA akan memerlukan investasi mesin insenerator hingga Rp 1.3 trilyun per 1000 ton~ Rp 1,3 milyar/ ton


 Namun sayangnya, lanjut dia, penegakan UU No 18 tahun 2008 belum diterapkan secara maksimal. Sehingga, beban pengelolaan sampah tetap berada di pemerintah daerah. Padahal, biaya yang harus dikeluarkan untuk pengelolaan sampah itu tidaklah sedikit.















Tuntaskan sampah di sumbernya

Berdasarkan hasil kajian BPPT, investasi untuk pengelolaan sampah yang maksimal melalui pengolahan dengan pembakaran (incenerator) kapasitas 1000 ton/ hari di TPA memerlukan biaya investasi sekitar Rp1,3 triliun. Lalu untuk pengelolaannya, diperlukan biaya Rp400 ribu untuk setiap ton sampah yang ditangani.

"Permasalahan sampah ini dirasakan oleh semua daerah di Bandung Raya. Apalagi semuanya mengandalkan pembuangan ke TPA yang lokasinya jauh. Tentu ini memerlukan biaya transportasi karena jaraknya jauh, lalu ditambah biaya pengolahan. Ini menjadi sangat mahal dan jadi beban pemerintah daerah," katanya.


Seharusnya, kata dia, Pemkab Bandung mengoptimalkan upaya pengelolaan sampah dengan metode Reuse, Reduce, dan Recyle (3R). Sehingga, sampah yang dihasilkan masyarakat habis di tempat munculnya sampah. Pada akhirnya akan mencapai pada zero waste atau sampah yang habis 100% di tempat munculnya. 


"Tapi pengelolaan sampah dengan 3R itu harus dilakukan secara masif dan dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat. Karena yang ada sekarang dan dilakukan oleh beberapa kelompok masyarakat itu masih sporadis dan tidak terpadu dengan instansi terkait," katanya.



Padahal, kata Sonson, pengelolaan sampah dengan metode 3R bisa menghemat anggaran pemerintah. Sekaligus membangun kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengelola lingkungannya. 


"Apalagi nanti kalau TPA Legoknangka di Nagreg itu sudah dioperasikan, itu akan menimbulkan biaya yang tidak sedikit untuk transportasinya karena jarak yang jauh. Belum lagi kemacetan bisa menghambat waktu. Jadi alangkah baiknya jika pemerintah menekankan pengelolaan sampah dengan metode 3R yang dilakukan secara masif dan sungguh-sungguh," ujarnya.

Berdasarkan pantauan INILAH, tumpukan sampah dengan mudah ditemukan di beberapa titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar di sepanjang Jalan Raya Terusan Al Fathu Soreang. Sampah berceceran di tepi jalan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga sekitar. Bahkan sesekali terlihat pengendara motor dengan bebasnya melemparkan sampah di tempat tersebut.


"Sebenarnya kami juga tidak mau buang sampah di pinggir jalan, tapi karena enggak ada TPS terpaksa dibuang di pinggir jalan. Seharusnya pemerintah juga bisa menyediakan TPS dan pengangkutan sampah dengan jadwal yang jelas. Kalau sekarang, kita disuruh tidak buang sampah sembarangan, tapi tempat untuk membuang yang benarnya enggak tersedia," kata Hendia (30), salah seorang penggendara motor yang biasa membuang sampah di tepi Jalan Raya Terusan Al Fathu Soreang. [hus], naskah asli, http://www.inilahkoran.com/berita/b...

Merobah masalah sampah jadi berkah

Sampah sebagai material sisa aktivitas manusia seringkali menjadi penyebab timbulnya masalah manakala tidak mendapat pengelolaan secara pantas. Timbulnya bencana longsor dan ledakan metan di TPA, masalah kurangnya anggaran (APBN/D) dan dana investasi bagi pengangkutan dari sumber penghasil sampah ke Tempat Pembuangan (TPA) serta berkembangnya penyakit karena rendahnya sanitasi lingkungan adalah beberapa masalah dari sekian banyak kerugian akibat salah kelola sampah.

Web ini mendiskusikan, mengupas rencana aksi tindak ( action plan), dan berbagi pengalaman mengelola sampah secara bijaksana serta semoga menjadi ajang bagi diskusi pilihan teknologi pengelolaan sampah disesuaikan dengan tingkat budaya dan kemampuan ekonomi masyarakat.

Digester Biogas BD 7000L

Digester Biogas BD 7000L
Sampah dan berbagai bahan organik (limbah peternakan, sampah makanan, sisa masakan, tinja/ feces, limbah kebun dan industri pangan) dapat terus menerus ditambahkan ke lobang pemasukan (intake chamber), dan akan diurai oleh bakteri metanogen (anaerobic activator Green Phoskko (GP-7). Proses awal, 7 m3, hanya 7 hari telah mulai mengeluarkan gas methana (CH4) dan tersimpan di bagian atas tabung atau reaktor biogas (gas holder). Kapasitas input material 7 m3 ditambah gas holder fiberglass 3,2 m3, memiliki dimensi PLT (diameter 200 cm, tinggi 390 cm), akan bertahan hingga diatas 10 tahun bahkan hingga 20 tahun. Diproduksi secara terurai (complete knock down) untuk memudahkan pengiriman, pemindahan dan perbaikan. Harga sudah lengkap dengan instalasi pipa, valve biogas, selang gas, kompor standar pabrikan yang sudah dirubah, dan peralatan penunjang bagi pemanfaatan gas methane sebagai bahan bakar ramah lingkungan dijadikan bahan bakar kompor di rumah, industri kecil, dan kebutuhan penggerak (engine) generator set modifikasi (Biogas Genset/ BG maupun Bio elektrik).

Pemurnian Metana ( Methane Purifier) Stainless MP 12135

Pemurnian Metana ( Methane Purifier) Stainless MP 12135
Alat pemurni metan ( methane purifier) ditujukan bagi upaya menaikkan perfomance, atau efisiensi panas biogas, agar berkualitas bagi penggunaannya sebagai bahan bakar pembangkitan listrik ( generator set), pengganti bensin premium yang makin mahal dan kepentingan menjadi sumber energi menjalankan perangkat elektrik seperti lampu Biogas, Rice Cooker biogas maupun perangkat elektronik lainnya. Pemurni metan ini terbuat dari tabung logam stainless, diameter 12 inch dengan tinggi 135 cm, berisi kantong pellet penyerap (absorbers) CO2, H2Sdan H2O untuk memurnikan gas metan. Pellet penyerap terbuat dari campuran aneka mineral tambang dengan basa kuat NaOH), yang dapat diganti (refill) per 2 (dua) bulan pemakaian. Alat pemurni metan ini berkemampuan menahan tekanan gas hingga 10,5 bar, memiliki masa ekonomis lebih dari 10 (sepuluh) tahun. Pemurni metan (methane purifier) ini mampu menaikan efisiensi kalori, memperbesar manfaat dan meningkatkan kualitas biogas hasil pembangkitan biogas dari reaktor atau bak cerna (digester) dengan output 4 hingga 8 m3 gas per hari, serta mampu mengalirkan biogas bertekanan (dengan kompresor) serta menaikan komposisi metan hingga 20 %, dan bersaman dengan itu menurunkan kandungan CO2, H2O dan H2S.

Aktivator Pembangkit Biogas Green Phoskko® [ GP-7]

Aktivator Pembangkit Biogas Green Phoskko® [ GP-7]
Green Phoskko® (GP-7) Activator pembangkit gas metana (@ 250 gr/ Pack) sebagai pengurai secara fermentatif sampah dan limbah organik dalam digester kedap udara (tanpa oksigen) terbuat dari konsorsium mikroba anaerobik. Dalam lingkungan mikro yang sesuai dengan kebutuhan bakteri ini (kedap udara, material memiliki pH >6, kelembaban 60 %, dan temperatur > 30 derajat Celcius dan C/N ratio tertentu) akan mengurai atau mendekomposisi semua sampah dan bahan organik (limbah kota, pertanian, peternakan, feces tinja, kotoran hewan dan lain-lainnya) dengan cepat, hanya 5 hari. Kemasan Green Phoskko® (GP-7) dengan bentuk serbuk kering ini adalah Pack [@ 250 gr] kualitas karton duplex @ 250 gram kemudian dimasukan kedalam karton per 20 pack, total berat setara 5 kg+)

Genset Biogas BG 5000 W

Genset Biogas BG 5000 W
Generator (Genset) Bio Elektrik BG 5000 W berbahan bakar gas metan ini merupakan kelengkapan ( compatible) bagi digester type BG 7000L dalam mengolah sampah dan biomassa (aneka bahan organik) guna merobahnya menjadi energi listrik. Genset modifikasi ini menyediakan listrik dengan daya hingga 5000 watt. Pilihan penggunaan gas metan sebagai bahan bakar bagi pembangkitan tenaga listrik dari Genset Bio Elektrik, disamping secara konvensional sebagai bahan bakar menyalakan kompor juga mendukung usaha kecil UKM dan maupun perumahan dalam mendapatkan daya listrik secara murah. Penimbul sampah organik (tinja/feces, sisa masakan, sisa makanan/food waste, kotoran ternak sapi maupun ayam) serta biomassa lain ( gulma kebun, gulma air) pada rataan 3 m3/ hari akan sesuai bagi genset Bio Elektrik BG 5000 W ini.

Mesin Olah Sampah RKM-1000L

Mesin Olah Sampah RKM-1000L
Komposter Biophosko® RKM-1000L ini berdimensi PLT ( Tinggi= 190 cm, lebar = 155 cm, panjang= 290 cm) terbuat dari bahan fiber resin murni, ketebalan 3 mm, dan peralatan aerasi lainnya. Alat Mesin Rotary Kiln komposter sampah ini akan merupakan solusi tepat untuk penanganan sampah suatu komunitas -yang sebagian besar menghasilkan sampah organik

Aktivator Dekomposer Sampah

Aktivator Dekomposer Sampah
Green Phoskko® Activator Kompos (Phoskko A) [per pack, 250 gr] adalah konsorsium mikroba unggulan (bakteri aktinomycetes- spesies aktinomyces naeslundii, Lactobacillus spesies delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces Cerevisiae, ragi, dan jamur serta Cellulolytic Bacillus Sp, bakteri aktinomycetes, ragi, dan jamur) pengurai bahan organik (limbah kota, pertanian, peternakan dan lain-lainnya). Bermanfaat untuk mempercepat proses dekomposisi sampah organik, menghilangkan bau busuk dan menekan pertumbuhan mikroba merugikan (patogen).

Pupuk Kompos Cair (PKC) Hasil Olah Sampah Organik

Pupuk Kompos Cair (PKC) Hasil Olah Sampah Organik
Pupuk Kompos Cair (PKC) Gramafert® Pupuk Kompos Cair (PKC) Gramafert adalah cairan yang dihasilkan dalam proses pengomposan ( dekomposisi ) secara aerob ( aerasi maksimal )